Senin, 20 Februari 2012

Tamu Tengah Malam

TAMU TENGAH MALAM
Cerpen Zahirin al-Ama

            Yustitia, gadis itu tersintak bangun dari tidur. Tengah malam, sekitar jam satu lewat. Bersamaan pula dengan seseorang yang datang bertamu. Di teras depan rumah. seserang yang tak dikenal. Ia terbangun bukan karena kedatangan tamu itu. Tapi Terdorong hendak buang air kecil. Kebelet pipis.
            Ia yang setengah sadar berjalan melalui pintu kamarnya hendak ke kamar kecil itu melihat adik sepupunya di dekat pintu depan. Hafiz, Anaknya tante Yusmaini terjaga malam-malam larut sebegini. Ia berusaha membuka kunci pintu dengan tangkai sapu. Badannya yang pendek membuat ia berjingkat-jingkat.
            “Mau kemana?” Tanya Tia yang sudah berada di belakang Hafiz.
            Ada tamu kak!” Jawab Hafiz. Masih berusaha membuka kunci. Mencoba menarik besi yang melekat agar turun.
            Tamu? Tengah malam begini? Siapa? Pertanyaan-pertanyaan itu membuncah di kepala. Tanpa banyak pikir. Pun tanpa banyak bicara. Ia membantu Hafiz yang masih berusaha membuka kunci.
Pintu terbuka. Angin masuk. Hawanya dingin. Terpaannya cukup merasuk sumsum. Tia menyilang tangan di perut. Melawan dingin yang menjalari tubuh. Dan di atas lantai teras, seseorang yang lebih kurang sama tinggi dengannya berdiri tegak lurus. Wajahnya terlihat cukup jelas oleh terpaan sinar cahaya lampu teras. Ia sendiri. Tanpa teman. Setelah dilihat betul, seseorang ini tidak ia kenal. Belum pernah ia lihat. Belum pernah pula ia menjumpainya diwaktu sebelum-sebelumnya.
“Maaf, ini dengan siapa ya dan mau ketemu sama siapa?” Tia memberanikan diri bertanya. Walau was-was mulai menyelinap. Cemas mulai merayap. Tanpa terasa bulu kuduknya sudah tegak berdiri. Sementara Hafiz mendekat, memegang erat tangan Tia di sebelah kanan. Ia merasakan hal yang sama. Cemas. Takut. Takut sama orang yang tidak dikenal. Takut sama tamu tengah malam.
Lelaki itu masih tetap berdiri di tempatnya semula. Lalu berujar. “Saya mencari orang yang bernama Tia.!”
Tia kaget. Ia bertambah cemas. Bertambah tidak nyaman perasaanya. Ia tahu namaku. Darimana ia tahu namaku? Dari siapa pula ia dapatkan namaku? Bahkan ia juga tahu rumahku. Ia mulai bertanya-tanya dalam hati.
Tia menarik nafas dalam-dalam, lalu lanjut berujar. “Ya saya sendiri, ada urusan apa ya?”
“Saya diminta oleh seseorang untuk menjemput adik.” Katanya datar. Suaranya kaku, sekaku ia berdiri. Tanpa senyum.
“Seseorang?!” Tia menggaruk-garuk kepala. Ia bingung. Penasaran. “Seseorang siapa? Siapa pula namanya?”
“Saya juga tidak tahu namanya, tapi dalam telpon dan smsnya, saya diperintahkan untuk menjemput adek.”
  Gelagat lelaki itu semakin aneh. Bicaranya tidak jelas. Ia tidak paham maksud yang hendak disampaikannya. Sedang di sini hanya ia dan dan Hafiz. Sementara etek Yusmaini sedang tidur di kamarnya. Hermaya, adik paman Hendri, suami etek Yusmaini juga sedang pulas. Sedang Paman Hendri sendiri berada di Padang untuk mengikuti diklat selama tiga hari. Dan orang itu belum beranjak dari tempatnya semula. Ia masih saja berdiri tegak lurus seperti orang i’tidal ketika sholat.
Angin bertambah kencang. Berhembus menerpa kulit-kulit mereka. Hawanya terasa lebih dingin dari semula. Tia bertambah menggigil. Giginya menggeretuk-geretuk. Demikian pula halnya Hafiz. Ia serta menggigil kedinginan. Giginya gemeretuk. Dan orang itu sepertinya tiada merasakan apa yang mereka rasa. Ia tidak kedinginan. Ia juga tidak menggigil. Padahal saat ini ia hanya mengenakan baju kaos oblong tipis  berlengan pendek. Bercelana levis. Serta hanya memakai sandal.
“Maaf, anda salah alamat.” Tia buru-buru menarik Hafiz masuk. Ia tidak menghiraukan lelaki yang masih berdiri di teras. Ia tidak mau lagi berlama-lama bicara. Ia juga tidak mau menoleh lagi melihat sosok aneh itu. Setelah di dalam buru-buru ia mengunci pintu. Lalu menutup gorden di jendela. Kemudian ia berlari-lari kecil menuju kamar kecil. Dan Hafiz kembali ke kamarnya.
*          *          *
            Tia mengambil handphone. Ia hendak menelepon Rian. Salah satu teman dekatnya di Padang. Ia ingin bercerita tentang peristiwa aneh yang ia alami tengah malam kemaren. Sebenarnya ia juga sudah menghubungi pada dini hari itu. Namun orang yang dihubungi tidak mengangkat. Barangkali karena terlalu lelap tidurnya. Karena waktunya dini hari.
            “Assalamu’alaikum!” menjawab Rian di seberang telepon.
“Wa’alaikum salam,” Tia memperbaiki duduknya. Ia buat posisi yang nyaman untuk menelepon. Menyandar di dinding sopa yang ia Alaskan bantal. Lalu ia lanjut berujar, “maaf mengganggu. Abang lagi sibuk ya?!”
“Tidak juga, sekarang lagi baca-baca buku, banyak bacakan bisa menambah ilmu, menambah wawasan, juga bisa juga nyantai sambil minum teh susu.” Jawab Zahrian seadanya. Ia memang suka membaca buku. Tidak sepertinya. Malas baca. Malas pula beli buku.
“Wah enak banget tuh.”
“Ya iyalah, masak ya iya dong!” Ujar Zahrian tertawa. Dan ia serta tertawa.
“Kemaren aku mengalami kejadian aneh bang,”
“Kejadian aneh? Mimpi?!”
Tia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya lepas begitu saja. “Bukan, ini nyata. Ini benar-benar terjadi.”
“Bagaimana ceritanya?” Tanya Rian penuh selidik. Serius. Juga khawatir.
Ia menceritakan kejadian itu sama persis dengan yang ia alami. Tentang bagaimana malam itu ia bertemu dengan dengan tamu tengah malam. Dengan seseorang yang tidak ia kenal. Pun belum pernah dijumpai sebelum-sebelumnya, tentang seseorang yang hendak tegak berdiri kaku di teras depan rumah. Yang hendak menjemputnya pergi ke suatu tempat yang entah. Juga tentang bicaranya yang tidak jelas. Dan gelagatnya yang mencurigakan.
“Hati-hati.” Komentar Rian usai mendengar cerita, “bisa jadi orang yang tidak dikenal itu punya maksud jahat sama kamu. Walau kamu lihat hanya ia sendiri ketika itu, mana tahu di belakang sana, di balik semak-semak mereka ada bersembunyi. Atau boleh jadi, teman-temannya menunggu di suatu tempat yang lain. Dan ia datang menjemputmu. Membawamu ke tempat teman-temannya menunggu di tempat yang lain itu.”
“Hi…, abang, aku jadi takut. Jangan menakut-nakuti dong!” Bulu kuduknya berdiri. Cemas mulai datang menyelinap. Pikirannya mulai tidak tenang. Apalagi saat ini malam yang lengang. Paman Hendri beserta tante Yusmaini pergi ke Padang. Sementara Hermaya sudah tidur dulu. Adik paman Hendri itu memang cepat mengantuk. Matanya susah untuk diajak bergadang. Kalau mengerjakan PR dari sekolah. Ia akan kerjakan pada sore harinya, atau pada waktu sudah Magrib. Menjelang jam sepuluh ia sudah lelap tertidur.
“Abang tidak menakut-nakuti. Abang hanya mengingatkan agar waspada. Selalulah hati-hati, kalau ada orang bertamu malam-malam, apalagi tengah malam. Jangan dibuka. Jangan pula dilayani bicara.”
“Biasanya seperti itu. Kalau ada orang datang malam-malam, aku selalu membangunkan tante, membangunkan paman. Namun entah kali ini aku lupa, lantaran Hafiz yang sudah ada di pintu depan.”
“Ya, sudah, tidak usah dikhawatirkan. Tidak usah pula cemas, yang jelas jangan lupa yang abang pesankan tadi, kalau ada tamu datang tengah malam. Jangan buka dan jangan layani. Beritahu tante, paman, dan yang lainnya.”
“Tapi kali ini tante sedang tidak di rumah, sore tadi ia berangkat ke Padang, menyusul paman, katanya pergi buat beberapa hari.”
Rian mengerutkan kepala. Ia juga khawatir. Ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi. Di rumah itu hanya ada dua orang perempuan. Ia tahu persis dimana rumah tempat Tia tinggal, karena ia pernha ke sana, pergi liburan saat hari Minggu. Di rumah yang terletak di pinggiran kota Sawahlunto itu berada di tempat yang lengang. Jauh dari keramaian. Rumah di sana jarang-jarang. Penduduknya pun juga sedikit. Arah belakang rumah masih berbentuk hutan lebat. Belum terjamah tangan manusia. Belum ada orang-orang yang membuka lahan di sana buat dijadikan ladang, atau buat membangun rumah-rumah. Kalau malam hari begini bunyi-bunyian jangkrik serta cacing tanah terdengar sahut-menyahut. Nyanyian itu selalu berdendang setiap malam. Berdendang memecah sunyi.
Habis menelepon, Tia lanjut mengerjakan tugas-tugas yang setiap hari diberikan oleh dosen-dosen di tempat kuliahnya. Meresume, membuat makalah, mengkliping dan yang banyak lagi lainnya yang tidak dapat disebutkan.
Ia mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik dari MP4. MP4 pemberian Rian beberapa bulan lalu ketika ia berkunjung ke sini. Rian sendiri yang memberikan sebagai hadiah. Ia memberikan itu bukan untuk hadiah ulang tahun. Bukan pula hadiah pesta. Karena saat itu ia tidak sedang berulang tahun juga tidak berpesta yang lain.
Hari semakin larut. Ia hampir menyelesaikan tugas kuliahnya yang banyak. Matanya berat. Berkali-kali ia menguap. Berkali-berkali pula ia menutup mulutnya dengan tangan. Menahan hawa yang keluar dari mulut. Ia tidak sanggup lagi menyelesaikan tugasnya yang tanggung itu. Ia tak kuasa menahan kantuk berat. Ia menuju ke tempat tidur. Di sana Hermaya tidur sangat lelap. Posisi merenga membelintang. Telentang. Ia luruskan kakinya ke tepi sebelah kanan dipan.
Baru saja ia hendak merebahkan badan. Di pintu depan terdengar bunyi orang mengetok-ngetok pintu. Ia terperanjat kaget. Cemas bercampur takut. Gemetaran tubuhnya. Ngantuk beratnya hilang seketika. Ia goncang-goncang tubuh Hermaya tapi ia tidak bergeming. Ia goncang lagi lebih keras. Gadis itu bergerak tapi ia lanjutkan lagi tidur.
“Bangun…, bangun…!” Setengah berbisik ia berujar.
Hermaya menggeliat, “Ah, ngantuk ni kak!” Lalu ia lanjut lagi tidur.
Ada orang mengetok-ngetok pintu depan.” Kata Tia lagi setengah berbisik. Namun orang yang diajak bicara tidak bergeming. Ia tidur lelap. Lelap sekali.
Ia panik, cemas, juga takut. Ia ambil Handphone, lalu ia hubungi paman, tapi nomor paman tidak aktif, ia coba pula nomor tante. Sama. Tidak aktif. Terakhir Rian. Telepon masuk. Tapi tidak diangkat. Ia terus berkali-kali mencoba. Namun sesering ia mencoba. Telepon itu tetap tidak diangkat-angkat. Sekarang ia sendiri di tengah malam sunyi. Badannya gemetar. Ia mati ketakutan.

Embun Penyejuk Hati
Padang, 06 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar