Senin, 20 Februari 2012

Cerpen

TELEPON MISTERIUS
Cerpen ZAHIRIN

            Handphone berdering memecah sunyi. Nada Hanya Ingin Kau Tahu terdengar nyaring bercampur getar. Pagi-pagi sekali. Sebelum mentari menyeruak senyum lewat ventilasi dan jendela. Dan dingin malam merambatkan embun di luar.
            Susi tertidur dalam posisi telungkup, menyilang badan di atas sofa, beralas bantal guling di bagian perut. Dengan mata masih terpejam, tangan meraba-raba mencari hp di sekitar pembaringan, malamnya ia taruh dekat telinga, agar ia dengar jelas alarm untuk jaga paginya. Posisi tidur yang beralih saat lelap malamnya. Buat ia berkali-kali usaha mendapatkan benda itu. Tak lama. Ia temukan itu dekat lutut bagian kanan. Ia tekan tombol penjawab. Lalu setengah sadar menyahut halo. Suara berat serak tertahan.
            ”Hai pemalas! bangunlah, bersiap-siap menghadap tuhanmu!” suara dari seberang sana
            Susi terkesiap kaget, ”Hei...!” suara tut tut dari speaker hp membuat ia terhenti berucap sampai disitu, ”sialan ni orang, pagi-pagi udah ganggu, kayak kurang pekerjaan aja, emangnya siapa dia, sok ngatur-ngatur saya” menggerutu seraya menghempaskan hp depannya. Kemudian kembali baring berselonjor badan sembari memeluk bantal guling. Melanjutkan tidur buat beberapa saat lagi menjelang cahaya pagi menyapa matanya.
            Bias cahaya pagi perlahan mengganti kelam. Pagi ini Susi telah siap hendak ke sekolah. Saat beberapa meter berjalan dari pintu rumah, ia teringat akan orang yang menelpon shubuhnya. Hp Nokia 3310 ia keluarkan dari saku tas. Banyak nomor tak dikenal, nomor misterius shubuh tadi adalah yang kesekian kalinya. Ia lihat di layar ponsel. Lalu dihapusnya.
*          *          *
            Siang terik memanggang kulit. Saat ini jam istirahat. Siswa-siswi SMA 14 bertebaran di taman, kantin dan di teras sekolah. Susi dengan teman-temannya di sela-sela halaman depan teras. Hp kembali berdering, di lihat, nomor tak dikenal, sepertinya orang yang menelepon Shubuh pagi. ini waktunya, gumamnya. ”Hei, siapa sih lo? ganggu gue aja”
            ”Segera bersujud sebelum tuhanmu murka” setelah kata-kata itu, hubungan terputus tiba-tiba
            ”Iy...!” jerit jengkel, raut wajah merah padam mengernyit, juntaian bibir berselonjor, betapa kesalnya ia. Lalu ia balik menghubungi. Hanya pesan dari operator yang ia dengar. ”Nggak aktif, sialan... sialan...!, apa sih maunya?”
            ”Jangan-jangan ia naksir ama lo” menyahuti salah seorang teman di sampingnya, diikuti tawa yang lain.
            ”Naksir?! Amit-amit!”
            Setelah kejadian Shubuh itu, dalam seminggu ini setiap lima waktu sholat ia dapatkan telpon misterius itu. Ia tak kenal. Dan semakin kejengkelannya bertambah-tambah. Tetap di seberang sana tidak menghiraukan.
            Dilain waktu, ia dapatkan telpon sesaat ia hendak beranjak dari rumah, rencana kemaren, hari ini ia hendak ke pantai bersama ketiga temannya, Lira, Sari, dan Lusi. Dalam telpon itu, sebuah saran agar ia memakai busana penutup aurat, berjilbab sebelum bepergian. Ia tahu kalau saya hendak pergi, dan ia juga tahu kalau saya sekarang hanya mengenakan baju ketat singkat, serta bercelana levis pendek hingga setengah betis, jangan-jangan ia juga tahu kalau saya tengah mandi, tidur, dan berganti pakaian. Apakah ia manusia, gumamnya menebak-nebak, jangan-jangan malaikat? Ia merasa bulu kuduk telah beridiri
            Di pantai, di bawah rindang pohon kelapa, sambil minum jus kelapa muda ia beberkan kejadian tadi. Mereka yang tak ambil peduli kemaren-kemarennya, turut merasa penasaran. Coba saja lo sms, mana tahu ada balasan, saran Lusi, dalam telpon aja gue nggak diacuhkan, apalagi sms. Gerah di sana, mereka lanjut jalan-jalan menyusuri bibir pantai, ombak kecil menghempas membasahi kaki. Sesekali saling siram. Yang terkena ganti membalas, jengkel senang membaur dalam lonjak-lonjak kegirangan.
            Tiba di rumah jam 12.01 Wib, ia dapati emak sedang memasak di dapur, asap dari tungku membumbung keluar dari celah-celah dinding bambu anyaman. Melihat emak, ia segera mendekat membantu.
            ”Nanti setelah Zuhur, kau antar rantang ke sawah” pinta emak
            Susi mengangguk-angguk mengiyakan ”tapi kasih uang ya mak, untuk isi pulsa” pintanya pula
            ”Kau ini minta upah terus, mak mana ada uang sekarang, tahulah, uang yang ada hanya cukup buat ongkos kau sekolah, belum lagi buat belanja ke balai besok”
            ”Ah, emak! Cuma 20.000-an mak”
            ”Ndak bisa” mengotot emak
            “Emak payah!”.
            Menjelang Zuhur hp-nya tiada berdering seperti sudah-sudah. Kembali ia heran. Kenapa kali ini ia tidak menghubungi? Apakah ia telah bosan? Entahlah, namun tidak adanya lagi gangguan itu, membuatnya mulai terasa nyaman. Namun terbesit juga dipikiran, bagaimana kalau waktu ashar, magrib dan seterusnya ia hubungi kembali?.
            Ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti. Nyatanya Ashar sore itu hp-nya tetap tak berdering. Magrib pun demikian. Kejadian ini berlanjut seminggu lamanya. Ia yang semula benci, akhirnya merasa butuh. Ia berharap, si misterius itu mau menghubungi lagi, tapi tiada pernah terkabul kehendaknya.
            Beberapa minggu setelahnya. Ia rasakan gelisah panjang selalu menyelinap di hatinya, mungkinkah karena ia tiada laksanakan pesan dari misterius itu. jangankan dari dia, dari bapak dan emak saja sebagai orang tua tidak ia hiraukan. Namun terbesit juga ia hendak laksanakan sholat, walaupun kepala berat bak batu diikatkan tali disekelilingnya. sudah berminggu setelah itu ia tiada lagi meninggalkan sholat lima waktu. Si misterius itu hingga kini belum juga menghubunginya. Kalau nanti ia menghubungi, ia akan meminta sesuatu. Kini ia hanya bisa menunggu.     
Akhirnya Hp berdering juga seusai ia melaksanakan sholat, ia girang betul,
            ”Terimakasih ya, saya sekarang udah laksanakan sholat, tapi saya butuh kamu sekarang, kamu bisa bantu nggak?”          
            ”Baik saya akan bantu kamu, apa pintamu?”
            ”Isiin pulsa dong, 20.000 aja,” rengeknya manja ”jangankan sholat setiap waktu dan pakain jilbab, jadi pacarmu saya juga mau, please...!”
            Tut, tut, tut! Hubungan terputus. Susi bingung sekaligus heran, ia ingat-ingat, apakah kata-katanya tadi salah, wah, gawat ni. Ia berpikir keras. Tak lama setelahnya. Nada tit, tit, berdering pertanda sms masuk. Di buka pesan:
            Terimakasih telah melakukan isi ulang, sisa pulsa anda sekarang Rp. 50.530 dan akan aktif sampai 22 Februari 2008. untuk cek pulsa silahkan tekan *888#.
            Dilanjutnya segera menekan tombol, ternyata benar, di sana terpampang jumlah yang dimaksud.
            Saat ini juga ia hendak menghubungi pengirim pulsa misterius itu.   bersamaan dengan itu pintu depan diketok-ketok, ia berjalan menuju pintu dengan hp masih tergenggam tangan dekat telinga
            ”Halo!” sahutnya seraya membuka pintu
            ”Halo juga, udah masuk pulsanya ya?!” wajah mereka saling berhadapan, tahulah ia si misterius itu. Ia beranjak tersipu malu menuju dapur. ”Emak..., emak...! abang Dasir mak...!, abang Dasir datang dari Jakarta...!”

Padang, 22 Januari 2008
Embun Penyejuk Hati

Nama               : Zahirin
TTL                 : 07 Agustus 1984/ Bangko-Jambi
Agama             : Islam
Alamat                        : Jl.Ampera No 13 RT 04/ RW I Kel. Bandar Buat, Kota Padang.
Lulusan           : Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya IAIN Imam                                 Bonjol Padang


Cerpen Anak

SEPEDA BAPAK
Oleh Zahirin al-Ama

            Ahmad melingkari tangannya erat di perut bapak. Ia duduk di belakang bapak yang mengayuh-ngayuh sepeda ontelnya. Hari ini dan seperti hari-hari sebelumnya ia berangkat menuju sekolah dengan diantar bapak. Pagi-pagi sekali. Sebelum mentari muncul dari balik bukit yang jauh di timur sana. Sebelum jalanan ramai dipenuhi orang-orang. Maka sepeda onta itu melintas di jalanan yang lengang ini. Di jalan mobil dan motor sesekali melintas pada siangnya. Jalan sepanjang dari rumahnya menuju sekolah.
            Kring…, kring…, kring…! Bapak membunyikan klakson. Lalu melambatkan laju sepeda. Di jalan menjelang sekolah anak-anak ramai berjalan kaki. Mereka ada yang berjalan di sisi kanan dan di sisi kiri jalan. Demi mendengar bunyi klakson. Anak-anak yang berseragam merah-putih itu menepi. Memberi lewat. Kemudian sepeda onta itu melaju di tengah badan jalan hingga berhenti di simpang tiga arah kanan. Di sanalah tempat Ahmad sekolah. Di SD N 24 Kalumbuk. Ia turun tepat di gerbang masuk depan sekolah. Setelah pamit mencium tangan bapak, ia berlari masuk melalui gerbang itu. Kemudian menemui teman-temannya yang sudah hadir lebih dulu darinya di dalam area sekolah. Di lapangan upacara mereka sudah bermain kejar-kejaran. Dan bapak akan pergi berlalu dari sana meninggalkannya. Biasanya setelah mengantar Ahmad, bapak akan berangkat kerja. Lalu akan kembali lagi menjemputnya siang selepas zhuhur.
            Kadang-kadang ketika hujan. Bapak mengenakan mantel seperti orang yang mengenderai sepeda motor. Hanya saja bapak tidak mengenakan helm. Di jalan yang ia lalui, jika ia berpapasan dengan orang-orang yang berjalan kaki. Atau kebetulan ketemu orang yang ia kenal, orang itu sedang mengendarai motor. Maka bapak akan tersenyum ramah pada mereka. Bapak orangnya murah senyum. Juga baik pada semua orang. Pada orang yang telah ia kenal maupun yang tidak ia kenal sekalipun.
*          *          *
            Pada siang ini, selepas sekolah, Ahmad terlihat murung. Entah apa sebabnya. Hingga bapak menjemputnya di depan gerbang sekolah. Namun bapak tidak memperhatikan. Juga tidak mengetahui apa yang terjadi. Sementara ia sendiri pun tidak mau cerita pada bapak. Sesampainya di depan rumah, ia turun dari sepeda lalu setengah berlari menerobos masuk pintu depan yang ketika itu memang terbuka. Karena saat itu ibu sedang menyapu teras depan. Dan Ia masuk begitu saja tanpa menanggalkan sepatu serta kaosnya. Setelah di dalam ia menuju ke kamar dan membanting pintu dengan keras Lalu menguncinya dari dalam. Ibu bingung. Bapak apalagi.
            Ibu yang masih menyapu meninggalkan pekerjaannya yang masih setengah lagi. Perasaannya tidak enak. Ia bergegas menemui Ahmad. Mencari tahu apa yang terjadi. Sedang bapak yang hendak berangkat kerja lagi, ia batalkan buat sementara. Ia parkir sepeda ontanya dulu. Lalu masuk hendak mencari tahu seperti ibu.
            Tok, tok, tok, “Ahmad…, tolong buka pintunya nak!” Sahut ibu dari luar. Sementara bapak di belakang ibu. Diam-diam cemas.
            “Tidak…!” Sahut Ahmad dari dalam dengan suara yang keras.
            Darah ibu berdesir. Naik ke seluruh kepala. Tidak biasanya ia seperti ini. Apa yang telah terjadi di sekolahnya? Apakah ia berkelahi? Lalu karena berkelahi ia terluka lalu menangis. Pikir ibu menduga-duga. Tidak nyaman. Atau barangkali ia dimarahi sama bapak atau ibu guru? Ibu mencoba tenang.
            “Nak, kamu kenapa sayang?”Tanya ibu dengan lembut. Sementara bapak tetap diam saja di belakang.
            “Ahmad malu naik sepeda. Ahmad tidak mau lagi naik sepeda dengan bapak. Teman-teman di sekolah selalu mengejek.”
            Ibu sedih. Di ulu hatinya ia menangis tertahan. Sementara bapak diam saja menunduk mendengar penuturan putranya.
“Oh begitu, ya tidak usah didengar.” Kata ibu datar membujuk.
            “Aku ingin bapak beli motor!” Ujarnya dengan ketus.
            Bapak dan ibu terperanjat kaget Bagaimana mungkin anak sekecil itu bisa berujar demikian. Bagaimana mungkin pula bapak bisa membeli motor. Dari mana ia peroleh uang. Jangankan beli motor, uang buat biaya sehari-hari saja susah. Bapak memegang kening. Lalu beranjak pergi ke luar.
            “Ahmad, kamu tidak boleh begitu sayang. Darimana kita dapat uang untuk membeli motor?”
            “Pokoknya aku tidak mau sekolah sebelum bapak beli motor.”
            “Ya sudah, mengenai motor nanti saja, sekarang kamu makan dulu.” Walau hati sedih. Ibu terus membujuknya dengan lembut. 
“Tidak mau…!” Kali ini suara Ahmad lebih keras dari yang tadi. Ibu serta bapak sedikit kaget. Tambah tidak nyaman.
            “Ya, ya, ya, tapi nasinya sudah ibu siapkan di atas meja di dapur!” Bujuk ibu lagi.
            “Tidak…, aku tidak mau makan…!” Yang kali ini tidak hanya keras. Tapi juga dibarengi isak tangis. Dan ibu serta bapak pergi meninggalkannya. Membiarkannya begitu sesaat. Menunggu hingga amarahnya reda.
*          *          *
            Hingga malam hari. Ahmad belum juga keluar dari kamarnya. Bahkan sudah lewat jam sepuluh malam. Ia sudah memutuskan untuk tidak keluar-keluar dari kamar hingga motor dibelikan. Dengan cara itu, mudah-mudahan bapak dan ibu memenuhi keinginannya. Dan ia bisa bangga pada temannya bila bapak telah punya motor. Lalu ia akan mengatakannya dengan lantang, “inilah motorku”
            Bapak dan ibu lain lagi, ia memang membiarkan sampai mana Ahmad bisa tahan. Mereka tahu, setelah amarahnya reda, atau ketika ia lapar hendak makan nantinya ia juga akan keluar dari kamar dengan sendirinya.
Dugaan bapak dan ibunya benar. Perutnya sangat lapar saat ini. Di samping itu ia juga kebelet hendak pipis. Hendak pecah rasanya ia menahan-nahan sedari tadi. Kalau saja ia keluar, berarti ia dianggap menyerah. Tapi kalau ia tidak keluar, berarti ia akan mati tidak makan. Kalau ia mati dalam keadaan marah sama orang tua, berarti juga ia telah jadi anak durhaka. Kalau anak durhaka pasti akan masuk neraka. Ngeri juga jadinya ia pikir. Aku tidak mau masuk neraka, ujarnya dalam hati. Dan apa hendak dikata, ia harus keluar dari kamar. Agar bisa pipis. bisa makan di dapur.
Mula-mula ia putar kunci pintu kamar dengan pelan-pelan. Setelah pintu terbuka ia memandang berkeliling. Merasa tidak nampak bapak dan ibu. Ia lanjut berjalan dengan mengendap-ngendap menuju dapur.
Di dapur ada ibu. Ibu sedang tertidur duduk di atas kursi, sementara kepalanya di atas meja. Di hadapannya tersaji makanan di bawah tudung. Ahmad lewat dengan hati-hati. Tanpa suara. Menuju kamar kecil. Usai pipis ia lanjut berjalan menuju meja. Masih dengan jalan hati-hati sekali. Tanpa suara ia mengambil satu kursi yang di dekat ibu. Ibu tersadar. Namun ia tidak langsung bangkit dari posisinya. Dalam hati ibu ia sangat senang. Dan Ahmad yang takut ibu terjaga tidur terus berusaha hati-hati menyendok nasi dari tempatnya. Mengambilkan sambal serta sayur-sayurannya di dalam piring-piring. Ahmad makan sangat lahap. Sampai-sampai ia berkeringat.
Usai makan, ia berujar lirih pada ibu yang posisinya ketika itu masih seperti orang tidur, “ibu maafkan Ahmad ya, aku sayang ibu, aku juga sayang bapak. Aku janji tidak akan marah-marah lagi sama bapak dan ibu. Aku juga tidak meminta yang macam-macam. Ahmad janji akan terus sekolah.” Usai berkata demikian. Ahmad mendekat lalu mencium kening ibu.
Ibu bangkit. Seolah-olah seperti orang yang baru bangkit dari tidur. Ia menguap-nguap berkali-kali. Tangannya menutup-nutup hawa dari mulutnya. “Ya udah, tidak apa-apa. Sudah sholat Isya belum?”
Ahmad kaget, ternyata ibu tidak tidur. Ibu mengetahui yang ia lakukan sedari tadi. Ia menekan kepala. “Wah, hampir lupa ibu!” Lalu sesegera itu juga ia langsung menuju kamar mandi untuk berwhudu’.

Embun Penyejuk Hati
Padang, 02 Juni 2010



           

Cerpen

SI MAYANG
Cerpen. ZAHIRIN

            Sayang! Sapaku saat kencan di hari Minggu itu. Eh Kamu malah cuek, marah, ngomel, cemberut dan bermasam muka. Padahal aku ingin kamu seperti yang dulu lagi. Ingat kan, betapa indahnya waktu di pantai Carolina itu. Kamu berbaring menelungkup di atas benen ukuran besar. Akulah yang mendorongnya dari belakang menuju tengah lautan dengan mengayuh-ngayuh kedua kakiku di belakangnya. Aku terus mendorong hingga orang-orang di bibir pantai terlihat mengecil seperti semut.
            Sambil masih mendorong kamu tiba-tiba kamu berteriak takut, aku tidak bisa berenang. Lalu aku ajarkan. Kuperagakan padamu dengan mengayuh-ngayuh tanganku ganti berganti. Lalu kamu tirukan. Setiap kali tanganmu menggelepar-gelepar menampar permukaan laut, air laut itu memercik membasahi muka dan rambutmu. Aku menertawakanmu. Lihat wajahmu, ha..., ha..., ha..., Kamu cemberut sembari merengek-rengek manja sambil mencubit pipiku sekuat-kuatnya.
            Tapi itu dulu. Dua tahun yang lalu sayang! Kini, semua itu hanyut digiring waktu. Kamu terlalu sering melihatku. Aku juga begitu. Aku tidak tahu, entah apa yang salah dengan mukaku. Apakah selama itu rautnya bertambah jelek saja di matamu. Dan di sana masih banyak rupa-rupa yang lebih menawan hatimu? Atau karena sifatku yang selalu dan selalu romantis di hadapanmu hingga akhirnya kamu sendiri jenuh dengan kondisi ini. Tapi mengapa Kamu tidak mau berterus terang padaku tentang masalahmu?.
            Seperti di malam  itu. Kamu miscall aku. Lalu aku balik membalas. Terus kulanjutkan dengan menuliskan pesan pendek, kupilih betul kata-kata agar nantinya tidak menyinggung perasaanmu atau membuat hatimu sakit. Namun tetap saja aku salah, kamu maki aku dengan kata-kata kasar. Aku rasakan hatiku hancur remuk. Hari-hariku selalu merana oleh ulahmu
            Sekarang kita sudah di sini. Untung saja tadi aku tidak terlambat. Semenit saja, kamu sudah pasti berlalu meninggalkan tempat ini. Tempat yang kita janjikan ketemu beberapa hari kemaren. Tempat yang paling romantis sejagad. Aku yang memilihnya. Cobalah kamu lihat di sana, Semilir angin berhembus menyapa dedaunan. Menari riang bersama gemulai lekuk riuh ranting-ranting. Berdesauan sekeliling rangkul-merangkul. Hingga bunga-bunga di hatiku semakin mekar. Tapi, aku tidak tahu, apakah bunga-bunga di hatimu juga turut serta mengiringi?
            Mayang! Namamu sungguh cantik, Aku memilihmu, bukan karena tubuh seksi titipan tuhan yang kamu punya itu. Tapi begitulah caraku mencintai. Aku memandang kesederhanaanmu, kesetiaanmu, perhatianmu, ketulusanmu dalam memberi tanpa pamrih.
            Benar begitu kak?!
            Kenapa kamu masih ragu? Apakah kurang cukup bukti? Aku telah janjikan selalu ada untukmu, cobalah kamu bayangkan, serta ingat-ingatlah selalu. Saat kamu mengajakku pergi jalan, aku selalu mengiyakan, tiada pernah sekalipun aku merasa keberatan walaupun pada waktu itu aku sedang ada kuliah, atau sedang banyak tugas. Akulah orang yang menemanimu mencari baju baru buat lebaran selama dua tahun ini, aku jugalah orang yang membantumu membuat tugas sekolahmu di rental itu dan ini, dilain hari pula aku mencarikanmu hadiah yang cocok untuk pesta ulang tahun temanmu. Pergi menghadiri pesta pernikahan kakak temanmu itu. dan pergi ke sana pun aku yang menemanimu. Sayang, salahku apa? Aku sudah beberkan segala yang aku rasa. Masih kurangkah semua itu? kalau memang iya, tolong beritahu. Aku pasti menuruti semua keinginanmu
            Percuma saja kakak beberkan segala apa yang kakak rasa, pokoknya Aku tidak mau tahu lagi, yang satu ini sungguh sangat menyakiti hati, lebih kakak tampar saja aku dari pada harus membuatku seperti ini. Sungguh, sungguh tidak bisa aku maafkan.
            Bersikaplah dewasa, jangan seperti anak kecil terus, sekarang kamu sudah kelas tiga SMA, apa salahnya kalau sedikit bijaksana.
            Kalau kakak menilai saya anak kecil, kenapa kakak mau pacaran sama aku, kakak sudah bosan kan sama aku? Sudah putuskan saja, apa susahnya bilang putus. Kalau aku sendiri jujur dalam hati, aku cinta dan sayang sama kakak, tanpa memandang tampang dan kekayaan, tapi ketulusan, namun kakak tidak pernah menghargai apa yang telah aku perbuat serta korbankan buat kakak selama ini, buktinya kakak balas air susu dengan air tuba, kakak remuk-remukkan hati ini kak. Sakit... kak! Kulihat Air matanya mulai merembes ke pipi.
            Dek, kalau itu masalah bagi kamu, tapi bagi aku justru sebaliknya, dalam hati ini tidak ada terbesit sedikitpun hendak berbuat demikian, kamu juga harus berfikir, sayang!
            Jangan panggil-panggil sayang! Ia berteriak lantang
            Baik, baik! tapi setidaknya, kamu bisa mengerti, dan kamu juga harus tahu kalau aku ini berkata jujur apa adanya, terbuka dan tiada satupun yang aku sembunyikan. Sekarang kak minta sama kamu, pliss katakan apa yang sebenarnya, aku benar-benar bingung dengan ulahmu sekarang.
            Kalau kakak bingung sama aku, kakak tinggalkan saja aku di sini, mati pun sekalian kakak juga tidak akan perduli
            Dek, pliss, aku cuma minta kamu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, biar aku jawab semua, biar aku jelaskan. Dan kakak janji akan jujur sejujurnya mengenai masalahmu yang ada pada ku.
            Kakak sengaja menyakiti dan menyakiti hatiku dengan jalan sama cewek lain di kampus itu, asal kak tahu saja waktu itu betapa berkecamuknya perasaan ini, kakak brengsek! Semua laki-laki brengsek! Tidak ada satupun yang sungguh-sungguh mencintaiku.
            Oh aku mengerti sekarang, tolong dengarkan penjelasanku dek ya, begini, namanya Lia. Dulu aku memang pernah pacaran sama dia, tapi udah putus, dia bukan siapa-siapanya aku lagi, jadi apanya yang kamu khawatirkan?
            Toh kakak jalan juga ama dia kan, laki-laki tu emang brengsek! Aku pikir kakak lah yang terbaik dari cowok-cowokku sebelumnya, tapi nyatanya sama
            Dek, aku tidak mau mempermasalahkan itu lagi, bagi aku itu akan membuat masalah kita bertambah runyam. Kali ini aku memohon jangan bahas itu lagi ya, sekarang begini saja kita udah duduk di sini bagusnya kita jalan-jalan seputar taman ini biar kamu agak lega.
            Dari sini aku bisa mengetahui, kalau kakak masih mencintainya, kakak juga pasti malu kalau jalan beriringan dengan aku yang cuma anak sma ini, iyakan?
            Dek! Bagaimana aku mengatakan padamu! Aku terlanjur telah berjanji....
            Janji? Jadi benarlah dugaanku... laki-laki itu emang benar-benar...
            Dek, aku belum sampai bicara, maksudnya aku cuma mau membantunya mencarikan buku di perpustakaan, aku harap kamu mengerti, kalau aku lakukan waktu itu hanya berniat untuk menolongnya bukan bermaksud menyakiti hatimu itu. jadi mohon, jangan dipermasalahkan lagi ya. Aku memegang kedua bahunya seraya menatap kedua matanya yan berlinang.           
            Bagi kakak tidak apa, tapi hati aku siapa yang tahu. Ia melepas kedua tanganku dengan hempasan tangannya
            Dek, sudah berkali-kali malah aku bilang sama kamu. Jangan dibahas lagi, yang aku minta sekarang, tolong bantu aku memecahkan masalah, sekarang yang ada malah sebaliknya, yang selalu memecahkan masalah itu aku dan aku. Tetapi kamu mana, yang ada malah menambah masalah. Akhirnya aku turut merasa kesal.
            Kan kakak tadi yang bilang kalau aku itu Cuma anak SMA, apa nggak malu meminta aku untuk memecahkan masalah, pikir dong kak! Kakak itulah yang seharusnya.
            Oh, aku tahu sekarang, kamu pasti sengaja lakukan semua ini agar aku benci, marah, jengkel sama kamu setiap saat kan? Jujur dek, kalau sikap kamu seperti ini terus-menerus itu yang membuat aku bertambah kesal, masalah kecil dibesar-besarkan. Apalagi masalah besar wah bisa mati aku sekalian, asal kamu tahu, Aku yang tak pernah muak mencintai dan menyayangimu hingga kapanpun, tapi dengan caramu yang begini lama-kelamaan aku juga jadi tidak tahan. Sikapmu setiap hari selalu menyakiti dan menyakiti. Katanya kekasih setia yang akan membuat aku senang dan bahagia. mana buktinya? Mana...? Nada suara lebih kuperkeras dari sebelumnya.
            Jadi kakak nyesal, benci, marah, geram? Sudah, Putusin saja aku! Dan jangan pernah lagi mencari-cari aku, menghubungi aku, lebih baik aku mati. Aku tidak ingin melihat wajah kakak lagi, lihat saja aku besok terikat tali di pohon depan rumahku itu. biar kakak puas sekalian.
            Segala kataku telah terkunci, membaur satu dalam rasa yang sangat berkecamuk, salah ucap dalam rangkaian kalimat saja akan fatal jadinya. Nampaknya aku harus mengalah, ya, mengalah demi orang yang aku sayang.
            Kudekati dia, kuperhatikan kedua tepi bibirnya yang telah menjuntai ke bawah, raut merah padam wajahnya, linangan air matanya, seperti hendak merembes lagi ke pipi, lalu aku datang, mengusap rambutnya, kulanjutkan mendekap tubuhnya. Tak perduli akan orang-orang di sekeliling yang melihat. Aku terus saja mendekap. Berharap mampu mendamaikan hati kusutnya itu lebih baik bagiku daripada ia mati bunuh diri, entah siapa yang salah, aku sendiri tiada tahu, sebab aku telah memilihnya.
*          *          *
            Seperti telah dijanjikan tiga hari yang lalu. Aku telah menunggunya di simpang tiga pasar Bandar Buat, aku duduk di atas motor yang kuparkir tepat depan rumah makan menunggunya. Harapanku mengajaknya mudah-mudahan saja tidak batal, aku yakin ia pasti datang, lantaran kulihat langit siang ini cerah.
            Walaupun banyak alasan dikemukakan, akhirnya ia mengiyakan. Dalam rencanaku, aku memilih tiga tempat yang romantis buat kencan kami. Pergi dan pindah dari satu tempat ke tempat lain secara berurutan. Sembari masih di atas motor mulailah aku membayangkan, aku memboncengnya dengan motor. Ini adalah yang pertama, karena tiada pernah sekalipun sebelumnya. Pasti asyik, gumamku. Aku harap ia mau merangkulku mesra dari belakang walau tanpa diminta, lalu mulailah aku membuat motor berjalan pelan di tanjakan, lebih pelan lagi di penurunan, dan di jalan mendatar. Supaya lama, supaya ia damai bersama hatiku.
            Aku berencana hendak mengajaknya ke tepian pantai pelabuhan Teluk Bayur dulu. Di sana kami akan memandang kapal-kapal yang berlabuh di dermaga, ombak yang menghempas bebatuan karang, serta merta burung-burung yang beterbangan sambil menyanyi-nyanyi riang pastilah akan menambah keindahan. Di sana, kami akan duduk di sebuah kafe, tepat di bawah pohon kelapa terlindung. Lalu tiba-tiba angin nakal samudra mengacak rambut hitam lurusnya. Dan waktu itulah aku akan membelainya. Oh, aku akan merasa damai...! damai... sekali!
            Setelah dari sana, ke Lubuk Minturun lah tujuan kami selanjutnya, di sana, aku hendak mengajaknya mandi bergabung di tengah keramaian orang-orang. Kami saling siram-menyirami, lalu terbesit pula di hati ini, hendak mengajarkannya berenang seperti  di Carolina dua tahun lalu itu.
            Setelah dari sana, pantai Padang lah kami singgah. Aku sengaja memilih pantai ini tempat terakhir, aku ingin ia mengerti betapa indahnya alam saat matahari terbenam. Lalu kami akan kembali setelahnya, aku sungguh akan membuat laju motor pelan..., pelan... sekali.
            ”Kakak!” Sebuah sapaan halus membuyarkan lamunanku, aku tak menyadari kalau ia telah berada di hadapanku dengan penampilan yang begitu anggun.
            ”Eh! Oke! Mari nona manis,” aku bersegera menghidupkan mesin. Lalu menyilahkan ia duduk di belakang. Mulailah aku menjalan motor memasuki jalan raya. Aku menjalankan pelan..., pelan... sekali.
            ”Kak!”
            ”Kenapa dek? Kok kamu tidak memanggil kakak dengan sayang, padahal dalam sms-mu selalu dengan panggilan itu, kalau aku tidak balas dengan panggilan serupa, kamu pasti akan marah-marah merajuk.”
            ”Iya, iya, sayang...!”
            ”Hmm...!” aku mengangguk-angguk seraya menatap lurus ke depan.
            ”Kita kemana kak?!”
            ”Nah, kakak lagi, kakak lagi.”
            ”Iya sayang...!”
            ”Rencananya ke Teluk Bayur, bagaimana?”
            ”Jangan...! jangan...!”
            ”Kenapa sayang?!” Tanyaku penasaran
            ”Pamanku kerja di sana, takut ketahuan”
            ”Waduh...! gumamku dalam hati, terus kemana?”
            ”Terserah kakak saja”
            ”Itu juga namanya tidak memberi solusi kemana, bagaimana kalau ke Lubuk Minturun?” Tawarku lagi
            ”Tidak, aku tidak mau ke sana, jauh, takut.”
            ”Takut?!”
            Hmm, hanya menunduk dia hingga menyentuh bagian atas punggungku. Entah apa yang ditakutnya, semakin buat penasaran orang saja, kataku dalam hati
            ”Kalau ke pantai Padang?”
            ”Sama juga bohong, di sana banyak teman-teman aku, nanti mereka bilang sama mamaku lagi, terus kena marah, apa mau sayang kak ini di marahi.”
            ”Aku benar-benar kehabisan akal oleh ulahmu sayang, tapi tidak apa-apa,  yang penting kita jalan, terserah kemana saja kehendakmu, aku akan setia menemani, tidak akan pernah bosan saya bertemankan kamu.”
            Aku terus membawa motor, menghabiskan hari yang tersedia. Aku masuki gang ke gang, melintas di jalan raya, menyelip di antara mobil angkutan barang, bus panjang yang menutup pandang. Berhenti di perlintasan kereta api yang meliuk-liuk kencang laksana ular. Kami berhenti, terus berlalu lagi setelah ekornya berlalu beberapa meter di samping kiri kita. Hari ini ramai, dunia tersenyum ceria menatapku, orang-orang memandang senyum, alam turut pula menggiring sejuk suasana. Oh dunia. Terimakasih telah, membuat hatiku dan dia menyatu.
            Kami telah sampai kembali di simpang Bandar Buat, waktu motor berhenti. Aku lihat Lia berlari-lari menghampiriku.
            ”Bang..., bang..., tadi lia dapat telfon, katanya ibu Lia masuk Rumah Sakit M. Jamil, tolong antar Lia ke sana sekarang juga, pliss...!
            Mayang yang melihat kejadian tadi, langsung beranjak dariku kemudian menyetop angkot. Kemudian menghilang dari pandanganku
*          *          *
            Mayang pasti marah sekali padaku. Padahal ibunya Lia memang benar-benar sakit seperti di tuturkan. Buktinya, dari siang hingga selarut malam ini sudah berkali-kali aku menghubunginya, namun Handphone-nya tiada pernah aktif. Besok aku berencana ke rumahnya. Menjelaskan sebenar-benarnya yang terjadi.
            Paginya. Aku sedang duduk di teras rumah sambil minum teh,
            ”koran..., koran..., koran...” seorang lelaki tua bersepeda menjajakan koran di luar sana
            ”Koran... satu pak!” teriakku
            Aku membeli satu, aku lihat jelas-jelas gambar dan judul di halaman utama ”Seorang Remaja Tewas Menggantung di Pohon
            ”Mayang..., Mayang..., Mayang...!

Padang, 18 Januari 2007
Embun Penyejuk Hati

Nama               : Zahirin
TTL                 : 07 Agustus 1984/ Bangko-Jambi
Agama             : Islam
Alamat                        : Jl.Ampera No 13 RT 04/ RW I Kel. Bandar Buat, Kota Padang.
Lulusan           : Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya IAIN Imam                                 Bonjol Padang



Cerpen

PEREMPUAN HUJAN
Cerpen Zahirin al-Ama

            Jika terdengar olehnya  bunyi hujan lebat mengguyur atap. Bunyi suara petir serta kilat yang menyambar-nyambar di langit. Dibarengi suara desau angin yang menderu kencang menerpa ranting dan dedaunan pohon-pohon. Yang merontokkan lalu menerbangkannya. Bahkan tak ayal ranting-rantingnya sekalipun. Patah. Terkadang menimpa atap rumah. Terkadang jatuh menimpa jalan. Terkadang jatuh di tempat yang entah. Dan disaat seperti itulah seorang perempuan membuka pintu depan rumahnya. Perempuan itu, rambut panjangnya yang  sepinggul dibiarkannya tergerai dihempas-hempas oleh angin. Ia juga membiarkan pakaiannya bergelombang-gelombang. Angin-angin itu kencang menerobos masuk ke celah pintu.
Ia keluar ketika semua orang-orang menutup rapat-rapat pintu serta jendela rumah-rumah mereka. Atau ketika anak-anak berlari ketakutan ke pangkuan ayah atau ibunya. Juga ketika semua orang berdiam hening apabila petir menyambar dengan suara sangat keras. Mereka menjadi terperanjat sembari menutup telinga. Mungkin kaget. Mungkin takut bunyi keras guntur yang menggelegar itu. Atau Mungkin takut gendang telinga mereka menjadi pecah. Entahlah.
Zubaidah, perempuan tua yang merupakan emaknya itu berusaha menahan-nahan langkah kakinya agar ia tidak pergi keluar. Tidak hanya sekali dua kali. Tapi sudah berulang kali ia lakukan hal serupa. Dan pada kali ini, emak melangkah tertatih-tatih melawan penyakit tuanya. Ia berusaha menggapai Hana di muka pintu. Ia berjalan dibantu dengan sebatang tongkat. Itu pun harus membungkuk-bungkuk menahan sakit pinggang. Juga menahan kaki yang terkena penyakit rematik. Sampai di dekat pintu, tingkuluk emak bergelombang-gelombang diterpa angin. Nyaris lepas dari kepala kalau saja ia tidak segera memegangnya.
 Kali ini emak kalah cepat. Emak tidak bisa menggapai dan menahan Hana. Perempuan itu berjalan setengah berlari menerobos hujan. Ia berjalan dengan mata lurus menatap ke depan. Tanpa bicara. Sesekali menunduk. Sesekali mendongak. Dan emak Zubaidah sudah berada di luar. Di depan teras rumah emak basah kuyup diguyur  hujan yang bertambah lebat dan semakin lebat. Matanya yang kabur dibukanya lebar-lebar ke arah Hana pergi. Namun yang nampak hanya jatuhan air hujan. Mata itu diusap-usapnya. Ketika ia kembali membukanya. Ia tak kunjung jua menemukan Hana.
Sebelum kejadian itu, emak tahu persis. Hana adalah orang yang paling takut dengan hujan berpetir. Hujan berangin. Ia juga takut dengan kilat yang menyambar-nyambar cepat di langit. Sejak dari kecil hingga menginjak usia perkawinannya. Jangankan kesemua itu. Apabila ia melihat langit mendung saja. Dan ketika itu ia berada di luar rumah, atau berada di tempat lain yang entah. Maka ia akan berlari-lari sekencang-kencangnya pulang. Lalu tanpa disuruh, ia akan menutup pintu dan jendela rumah rapat-rapat. Kemudian mengambil selimut. Mengambil bantal. Setelah itu ia segera mendekati emak sembari menutup telinga dengan bantal. Menutup badannya dengan selimut.
*          *          *
Kejadian dua tahun lalu sungguh pilu, sungguh pun emak tidak tahu persis apa yang terjadi antara Hana dan suaminya itu. Namun yang ia dengar dan saksikan sendiri dari ruang tengah, ketika ia tengah menyulam tenun saat itu. Dari dalam kamar itu suaminya terdengar seperti membentak-bentak. Bentakan dengan kata-kata yang ia kurang jelas ditangkap. Juga susah dipahami. Sementara Hana menangis-nangis saja. Memohon-mohon. Meminta maaf dan ampun. Emak menjadi tiada tega. Namun ia berharap serta berdo’a mudah-mudahan saja masalah mereka dapat selesai dengan baik.
Namun kenyataan berkehendak lain. Suami Hana malah membuka pintu dengan keras. Pintu yang terbuat dari kayu itu terbanting ke dinding belakangnya. Emak terperanjat. Darah berdesir-desir. Ia melihat suami Hana dengan paksa melangkah sambil menyandang tas di punggung. Sementara hana dengan tangis menyayat pilu berusaha menahan-nahan langkah suaminya. Ia memegang erat kedua kakinya. Hana terseret-seret hingga ruang tengah. Dan emak menjadi tiada tega. Pikirannya sudah tak tenang lagi. Ia khawatir, sungguh sangat khawatir kalau-kalau suaminya telah menjatuhkan talak.
Memang benar. Mereka telah bercerai saat itu juga. Dan suaminya itu mampu juga melepaskan kakinya setelah mengancam akan memukulnya. Kemudian ia berjalan keluar bersamaan dengan datangnya hujan, petir serta kilat yang menyambar-nyambar. Ia belari menerobos hujan. Hana datang mengejar. Namun orang yang hendak dikejar telah hilang ditelan hujan. Hujan yang semakin lebat dan bertambah lebat. Ia berusaha mengejar dan terus mengejar. Namun semakin dikejar semakin ia merasa hilang.
Malam selepas Isya hujan reda. Hana kembali pulang dengan basah kuyup. Emak yang saat itu baru saja usai melaksanakan sholat langsung datang menghampiri Hana. Ia merangkul erat tubuh kuyup dan dingin itu. Baginya kembalinya Hana ke rumah sama artinya kembalinya sesuatu benda yang paling berharga yang dimiliki. Ia mengucap-ucap syukur dalam hati. Ia terus mendekap tubuh malang itu. Lama sekali. Tak terasa air matanya menetes jatuh di pipi.

Embun Penyejuk Hati
Padang, 31 Mei 2010

Cerpen

PAK GURU AMIN
Cerpen ZAHIRIN

            Amin hendak ke kota. Katanya ia ingin mencari kerja. kerja apa saja. Karena katanya di kampung ia tidak punya penghasilan. Sebelum berangkat ke kota ibunya berpesan pada agar ia selalu menjadi orang yang jujur. Kapanpun dan bagaimanapun kondisinya. Juga ia diminta jangan lupa memberi kabar sesampainya di sana nanti. Amin adalah anak yang penurut. Demikian juga halnya menurut teman-temannya. Tentu ia akan pegang teguh segala ucapan orang tuanya. Ia akan berusaha sedapat mungkin dalam kehidupannya berterus terang.
Sekian lama di kota Amin yang hanya lulusan SMP itu telah menjadi guru. Kabar melalui surat yang dikirimnya tentu membuat ibunya sangat senang. Karena akhirnya Amin kerja juga. Ia menjadi guru bukan karena ikut tes PNS, atau melamar langsung ke sekolah sebagai guru honor, karena tidak sedikit pun di ingatan menjadi guru. Melainkan bekerja di sebuah pabrik, pabrik apa saja.
Amin menjadi guru ceritanya begini. Suatu pagi menjelang siang diwaktu itu beberapa orang anak murid SD yang berjarak tidak jauh di depannya terlihat berlari-larian menuju tempat ia berdiri, Mereka berjumlah empat orang. Kebetulan waktu itu ia hendak mandi. Semakin dekat anak-anak dengan nafas terengah-engah itu terus lari bersembunyi di belakang rumah. Tidak lama setelah itu datang seorang berpakaian rapi yang mengaku kepala sekolah SDN 10 Gunung Nago. Ia bertanya apakah Amin melihat ada anak berlari-lari ke sini? Saat itu terngiang-ngiang ibunya berkata. “Amin, engkau harus berterus terang dalam segala hal. Dengan begitu engkau dapat memajukan dunia yang penuh dengan kebohongan ini.”
Tentu kata Amin, mereka ada di belakang rumah saya, tunjuknya. Kepala sekolah segera ke tempat yang ditunjuk Amin. Dan ia menemukan keempat orang anak sedang bersembunyi melarikan diri pada jam belajar. Karena jasa Amin itulah kepala sekolah SD N 10 menawarkan Amin untuk menjadi guru di sekolahnya. Di samping itu SDN 10 Gunung Nago kekurangan tenaga pengajar dua orang. Pada mulanya Amin menolak, lantaran ia hanya lulusan SMP. Ia tidak yakin akan mampu mengajar. Namun karena bapak kepala itu terus mendesak. Amin akhirnya menerima tawaran itu.
            Waktu jadi guru. Saban ia hendak masuk kelas untuk memberi pelajaran, ia selalu ingat pada kata-kata ibunya ini, dan sebab itu ia selalu memulai pelajaran seperti ini, “Selamat pagi anak-anak. Kemarin aku telah kawin dengan gadis kota ini. Aku sengaja tidak mengundang kamu sekalian, karena aku pikir kamu toh tak akan dapat memberi apa-apa. Apa pula yang dapat diharap dari anak-anak bukan? Eh Syukri! … berapa 13 x 12?”
            Atau pada lain kali ia menceritakan panjang lebar tentang perselisihannya itu dengan istrinya. Waktu ia pakai celana pendek saja dan istrinya pegang golok. Kata bersahut dengan kata dan tiba-tiba istrinya mengejar dia dengan golok itu dan ia lari pontang-panting. Dan bagaimana larinya itu, dicobakannya pula di muka kelas. Anak-anak pada tertawa, seorang berkata, “Ah pak guru takut sama istri.” Yang lain berkata “Kasihan pak guru, dirongrong terus-terusan sama istrinya.”
            Anak-anak yang berpihak pada pendapat pertama lebih banyak dan itu sebabnya sejak itu Amin mendapat gelar, guru golok. Dan karena guru golok sangat baik bersajak dengan guru goblok, Amin akhirnya bernama guru goblok. Setiap ia masuk kelas ada saja anak nakal yang berteriak keras-keras, “Selamat pagi guru goblok…blok…blok….” Atau jika pagi-pagi ia masuk dengan sepeda antiknya ke pekarangan sekolah berteriaklah dari segala jurusan, goblok… goblok… goblok…!”
            Orang yang sesabar-sabarnya akhirnya marah juga. Dan Amin adalah orang yang selalu menurutkan kata hatinya. Jika hatinya berkata, pegang seorang anak dan pukul dia, maka ia memang memegang anak yang terdekat darinya, lalu dipukulnya. Rasanya Amin hanya memukulnya pelan, tapi kening anak itu benjol dan dari telinga keluar darah.
            Dan inilah sebabnya datanglah orang tua murid yang kena pukulan itu ke sekolah. Kepala sekolah memaki-maki Amin dan akhir cerita Amin diberhentikan.
            Tapi pada waktu Amin mau pergi meninggalkan sekolah yang dianggapnya celaka itu, ia menentang guru kepala, dan tegas-tegas berkata, “ beberapa hal bapak kepala, andalah yang telah mengajak saya bergabung di sini padahal dulu sudah saya bilang bahwa saya hanya punya lulusan SMP, dan bapak-ibu serta anak-anak sekalian harus akui, bahwa saya bukan goblok! Saya hanya menceritakan pada anak-anak bahwa istri saya pernah mengejar saya pakai golok. Saya lari… dan anak-anak menamakan saya dari sejak itu guru goblok. Mengapa? Tuhan saja yang tahu. Saya tidak.”
            Setelah itu ia pergi, kepala terkulai menghadap tanah. Dan waktu ia baru saja menginjakkan kakinya di atas jalan besar anak-anak bersorak ramai-ramai dan sekarang lebih keras dari yang biasa. “Selamat pergi guru goblok…! Selamat pergi guru goblok…k selamat pergi guru goblok…!”
            Amin tidak mau menengok ke belakang lagi. Dan ini sudah tabiat Amin. Jika ia sudah ambil keputusan dengan sesuatu hal, ia tidak mau menengok ke belakang lagi. Dinaiki sepeda antiknya dengan pelan-pelan ia menuju ke rumahnya.

Embun Penyejuk Hati
Adzkia, 08 Desember 2009

Cerpen

MELUKIS BADAI
Cerpen Zahirin al-Ama

            Aku ingin melukis badai. Ujar Hani suatu ketika. Gadis kecil berambut lurus panjang tergerai itu menatap hampa ke langit biru. Di teras rumah ia bersama bunda yang tengah menyulam tenun. Di atas kursi rotan yang sudah usang dan lapuk itu ia memegang sebuah pensil, berhadapan dengan sebuah kanvas kain yang tegak miring di atas meja. Di samping kanvas, beberapa cat air pewarna beserta crayon ia biarkan berserakan. Demikian juga kuas dan plastik tempat menuang cat, tumpah belepotan di atas meja. Bahkan ada juga yang tumpah di lantai.
            Badai itu angin sayang. Sedangkan Angin itu tidak dapat dilihat, bagaimana cara kau melukisnya? Bunda meninggalkan kain tenunannya di lantai teras. Ia menghampiri putri semata wayangnya. Lalu mendekap erat tubuhnya. Hani tiada bergeming. Tiada pula terasa hangat ia rasakan pelukan bunda. Diam. Kaku. Tanpa ekspresi. Dan sebersit pilu menyelinap di ulu hati bunda. Di ulu hati ada luka yang teramat dalam ia rasakan. Kenapa pada akhirnya ia harus mengalami nasib malang ini. Nasib yang sama sekali tiada pernah ia inginkan. Tiada pernah pula dibayangkan. Yang juga tiada pernah terlintas dipikirannya. Dan Hani yang sekarang bukanlah Hani yang dulu ia kenal. Dulu Hani adalah seorang gadis kecil yang riang.  Hari-harinya ceria selalu, Hani juga  anak yang suka bercanda, bercanda sama bunda, abang dan ayahnya. Terkadang sesekali tertawa lepas bila sesuatu dianggapnya lucu. Bahkan tak jarang ia suka usil pada mereka. Kadang-kadang ia sendiri yang diusilin. Hari-harinya adalah hari yang bahagia. Tidak ada istilah dalam kamusnya kata-kata sedih, duka, malang atau entah apa namanya.
            Tapi Hani yang sekarang bukanlah Hani yang dulu ia kenal. Setiap kali melihatnya, Bunda menangis pilu dihati yang tertahan. Menangis melihat kondisi putrinya yang kian hari kian mengkhawatirkan. Menangis menyaksikan putrinya yang berubah seratus delapan puluh derajat. Tak terasa air matanya berlinang lalu merembes ke pipi. Karena ia merasa sungguh, dulu ia adalah anak yang periang, pecanda dan menyenangkan. Namun bagaimanapun, ia harus menerima kenyataan pahit yang harus dialaminya sekarang. Bersama Hani sekarang yang hilang riang, senang, suka dan candanya. Semua itu telah pergi. Telah berlalu seperti lewatnya waktu yang tidak dapat diputar ulang.
Semua itu bermula sejak sebulan lalu. Ketika badai hebat menghantam kampung ini. Badai itu menghembuskan angin sangat kencang yang belum pernah dirasakan orang-orang sini. Yang juga belum pernah sekalipun terjadi di kampung ini. Badai itu melanda selama beberapa jam saja. Namun cukup untuk memporak-porandakan kampung ini. Angin itu telah menghempaskan atap-atap rumah. lalu menerbangkannya di udara. Tiang-tiang listrik rebah menimpa orang-orang. Menimpa rumah-rumah. Menimpa jalan-jalan. Pohon-pohon yang patah. Bahkan roboh. Orang-orang banyak meninggal. Puluhan orang bahkan ratusan orang. Mereka meninggal akibat tertimpa seng, tersengat arus listrik dari tiang-tiangnya yang roboh, lalu kabel-kabelnya yang bertegangan tinggi itu menjadi terputus-putus. Ada juga tertimpa bangunan, bahkan ada juga yang terbawa arus angin ke suatu tempat yang jauh. Ada yang masuk ke sungai hingga lanjutnya hanyut. Ada yang terlempar ke hutan. Terlempar lalu tertancap di atas besi-besi tajam dari material-material bangunan baru. Hani dan bunda berlindung di balik tembok rumahnya. Beberapa atap seng rumahnya terbuka oleh hempasan kencang angin badai. Beterbangan jauh menuju arah yang entah. Ketika itu, ayah bersama Hendri abangnya sedang tidak di rumah. Mereka sedang berada di luar. Berada di tempat yang berbeda,  menjelang berangkat bermain siangnya, Hendri pamit keluar pergi bermain sepeda dengan temannya. Sementara ayah pergi ke kedai kumpul-kumpul bersama-sama orang-orang di sana. Dan di rumah. Hani menjerit keras-keras sembari menutup telinga. Sementara bunda berdo’a saja dalam hati sambil mendekap erat Hani. Ia pasrah. Ia berharap mudah-mudahan ayah beserta Hendri selamat.
Namun Tuhan berkehendak lain. Ayah dan Hendri ditemukan tewas di tempat terpisah. Ayah ditemukan tiada bernyawa dengan kepala pecah tertimpa tiang listrik bersama orang-orang lain. Darah bermuncratan di sana-sini. Sementara Hendri tewas tertusuk patahan kayu-kayu yang rebah dan jatuh. Dengan luka perut robek. Nyaris keluar usus. Bunda menangis. Hani menjerit-jerit. Meraung-raung keras sekali. Kampung ini berduka. Setelah berhentinya badai dahsyat ini, berbondong-bondonglah para wartawan media cetak, elektronik dan radio setempat. Mereka mencatat, mewawancarai saksi lalu melaporkan melalui siaran televisi. Menulisnya di koran-koran. Atau laporan ekslusif langsung di radio. Maka ketika itu mulailah berdatangan bantuan-bantuan. Juga tidak ketinggalan para pemilik pemilik kepentingan. Mereka datang berkunjung. Mulai dari calon bupati hingga calon gubernur.
*          *          *
Hani sangat suka melukis. Karena dari kecil hobinya memang melukis. Bahkan ia jago dalam melukis. Setiap kali menemani bunda pergi ke pasar. Ia selalu meminta bunda membelikannya peralatan lukis. Pensil warna, crayon, cat air, kuas dan buku gambar. Walau semua itu telah banyak tersedia di rumah. namun ia selalu mengotot minta dibelikan yang baru.
Hani pintar melukis bunga. Ia melukis bermacam-macam bunga apa saja yang tumbuh mekar di halaman depan rumah. Bunga-bunga yang banyak dalam taman itu ia lukis seperti aslinya. Bunga Rose, Melati, Anggrek, Asoka dan banyak lagi lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Ia juga piawai melukis pohon kelapa, pohon kelapa yang melambai-lambai di tepian pantai berombak. Jika orang-orang memperhatikannya sekilas, maka mereka serasa berada di tepian pantai dengan udara sepoi-sepoi yang berhembus sejuk. Mereka juga merasa dekat dengan bunyi deburan ombak. Begitu pun dengan pemandangan alam pegunungan, ia buat di sana sungai berair jernih dan tenang yang meliuk-liuk panjang. Ia hiasi sebelah kanan sungai itu dengan rimba belantara yang belum terjamah tangan jahil manusia. Sedang di sebelah kirinya ia lukis sawah-sawah lengkap dengan orang-orangnya di sana. Para petani. Anak-anak sekolah yang lewat di pematang-pematangnya. Dan beberapa gunung yang menjulang tinggi ia jadikan latar di kejauhan utara sana. Indah. Menakjubkan. Hani juga bisa melukis wajah-wajah orang. Lukisan wajah itu bisa ia buat mirip seperti aslinya. Ia telah melukis wajah bunda, ayah dan abangnya. Ia juga telah melukis wajah bu Ainun, guru TK-nya tanpa sepengetahuannya. Ia bisa melukis wajah-wajah orang lain yang belum ia kenal sekalipun.
Karena bakat yang dimilikinya itu, menjadikan ia disayang banyak orang-orang. Mulai dari keluarganya tentu, bunda, ayah dan Hendri abangnya. Dari om dan tantenya yang sesekali datang berkunjung. Mereka takjub melihat sepanjang dinding rumah, mulai dari dinding luar depan rumah hingga dinding dalam, banyak karya-karyanya yang terpajang. Semuanya indah-indah. Bagus-bagus. Lebih bagus dari lukisan seorang anak SMA. Lebih takjub lagi mereka setelah mengetahui bahwa Hani lah yang melukis itu semua. Juga, ia sendiri yang memajangnya di dinding. Mula-mulanya mereka tidak percaya pada gadis sekecil Hani bisa melukis demikian hebat. Belum lagi puji-pujian yang datang dari tetangga dekat hingga tetangga jauhnya ketika mereka juga datang langsung menyaksikan lukisannya. Mereka takjub. Mereka mengakui kehebatan si gadis kecil berambut panjang tergerai ini.
Semasa sekolah di TK dulu ia sering mendapat juara. Ia sering mengikuti perlombaan-perlombaan. Perlombaan yang diikutinya mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat provinsi. Bahkan nyaris setiap kali ia mengikuti perlombaan itu, ia selalu memboyong trofi pulang, ditambah lagi tabanas, Juga paket hadiah langsung yang dibungkus dalam kado. Karena kepiawaiannya ini, ia telah berkali-kali mengharumkan nama TK tempat ia belajar. Begitu pun juga ketika ia di sekolah dasar sekarang ini. Setiap kali diadakan lomba melukis antar sekolah, antar kecamatan, atau antar kabupaten/ kota maka ia tidak pernah ketinggalan. Bahkan ia selalu menjadi utusan. Setiap kali mengikuti lomba itu. Setiap kali itu pula ia memperoleh juara. Sudah berpuluh-puluh piala yang dikoleksinya di rumah. Atau yang di koleksi oleh pihak sekolah, di dalam lemari kaca kantor kepala.
*          *          *
            Aku ingin melukis badai! Ujar Hani lain hari. Di atas kursi rotan, di teras rumah depan. Ia menatap awan yang berarak menutup langit biru. Awan-awan tebal menggumpal. Lalu mendung. Bunda yang menenun kain serta menatap apa yang ditatap putrinya. Sesekali ia menoleh pada mata putrinya yang nanar. Sesekali menoleh pada kain kanvas. Di atas kanvas yang telah dicoret-coret tak beraturan. Kadang-kadang kembali menatap langit biru yang berubah mendung itu.
            Sekali lagi, bunda datang menghampiri. Bunda mengelus-elus rambut panjangnya yang tergerai. Kenapa harus badai sayang? Kamu kan bisa melukis yang lain. Kamu bisa melukis bunga-bunga. Melukis pohon kelapa. Melukis wajah bunda. Atau melukis pemandangan laut. pemandangan pegunungan, pemandangan perbukitan.   Dan apa saja, selain badai! Kata bunda dengan lembut sambil membelai-belai rambut gadis kecilnya. Seperti yang sudah-sudah orang yang diajak bicara hanya diam tanpa respon. Kaku. Tidak bergeming dari tempat duduknya. Dan sekali lagi, tanpa sadar. Air mata bunda berlinang lalu merembes jatuh ke pipi.
            Hani terus saja melukis. Lukisan itu sudah ia buat berhari-hari. Beberapa torehan pensil serta cat pewarna sudah bertambah di sana-sini. Namun belum juga menunjukkan sebuah gambar yang sempurna. Padahal, seperti biasa, untuk melukis gambar-gambar lain ia hanya butuh waktu satu jam saja, atau paling lama satu hari. Namun tidak dengan lukisan yang satu ini. Mungkin lukisan badai adalah sebuah lukisan yang berat untuk ia deskripsikan. Sehingga ia butuh waktu sangat lama memikirkannya.
*          *          *
            Beberapa minggu kemudian lukisan itu rampung. Ia gambarkan suasana langitnya mendung agak kegelapan. Di sana ada angin badai sangat kencang melanda kampung. Menerbangkan atap-atap. Menerbangkan daun-daun serta ranting-ranting pohon. Merobohkan pohon-pohon. Merobohkan tiang listrik. Orang-orang berlindung dengan berpegangan di tiang-tiang yang kuat. Tiang apa saja. ada yang berlindung di balik tembok-tembok yang tangguh. Di dalam sana ia juga gambarkan banyak mayat bergelimpangan di sana-sini. Suasananya mengerikan. Dan cukup bergidik jika ditatap lekat-lekat.
            Pada saat ini senja. Di atas meja, kanvas lukisan itu di biarkan saja begitu. Sedangkan pensil, cat pewarnanya dan kuasnya di tinggalkan berserakan. Sementara itu juga di atas langit sana mendung awan kian tebal menyelimuti. Kilat dan petir menyambar-nyambar sesekali. Kadang-kadang guntur berbunyi amat keras memekakkan telinga. Dari tanda-tanda itu sepertinya hujan angin akan segera turun. Dan bunda tahu. Ia segera keluar bergegas menemui putri semata wayangnya menjelang hujan datang mengguyur. Namun betapa terperangahnya bunda. Hani, seorang gadis kecil rambut panjang tergerai itu tiada di tempat. Bunda memandang berkeliling. Melihat-lihat sekali lagi. Ia berharap kalau ia berpindah posisi duduk. Ia cemas. Sangat cemas. Dan bertambah cemas lagi karena ia tidak kunjung jua mendapati Hani.
            Hani…, Hani…., Hani….! Bunda berteriak-teriak keras bersamaan dengan datangnya hujan lebat mengguyur. Bunda menerobos hujan. Ia basah kuyup. Ia menjadi sangat pucat. Ia berlari-lari dalam bingung. Menerobos samar-samarnya senja yang tidak lama lagi gelap menyelimuti. Dan ia terus berlari-lari ke arah jalan yang entah. Ia terus berlari-lari mengejar gadis kecilnya. Putri semata wayangnya.
Embun Penyejuk Hati
Padang, 26 Mei 2010